Trump disebut meminta Israel hentikan serangan gas Iran, tapi fakta lain justru menunjukkan perbedaan sikap kedua sekutu dalam perang.
Isu paling panas di geopolitik kini membuat publik terpaku: dikabarkan Donald Trump meminta Benjamin Netanyahu menghentikan serangan terhadap fasilitas gas Iran sebuah permintaan yang terdengar mengejutkan di tengah konflik yang semakin memanas.
Namun fakta yang terungkap justru menunjukkan hubungan AS-Israel tidak selalu seragam dalam strategi perang, memunculkan pertanyaan besar tentang tujuan dan kepentingan masingāmasing pihak. Simak selengkapnya untuk mengetahui sisi lain dari narasi ini hanya ada di Perkembangan Berita Dunia Terkini.
Ketegangan Antara AS Dan Israel Di Tengah Perang Iran
Konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran semakin mengemuka setelah gelombang serangan udara selama perang yang dimulai pada akhir Februari 2026. Israel melancarkan serangan udara terhadap berbagai instalasi militer dan energi Iran, termasuk gas dan minyak, yang kemudian memicu respons keras dari Teheran serta negara-negara Teluk lainnya. Hal ini telah memperburuk stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Donald Trump kemudian muncul sebagai sosok yang mencoba menahan eskalasi lebih jauh. Menurut laporan terbaru, Trump telah meminta kepada Benjamin Netanyahu untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas gas Iran. Terutama setelah serangan terhadap South Pars gas field yang merupakan salah satu ladang gas terbesar di dunia.
Permintaan tersebut muncul sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global dan tekanan politik di dalam negeri AS. Yang khawatir dampak ekonomi dari perang dapat mempengaruhi stabilitas internal. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa serangan lebih lanjut terhadap fasilitas energi Iran akan kontraproduktif dan memperburuk krisis energi dunia.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
š„ Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
š² DOWNLOAD SEKARANG
Serangan South Pars Dan Respons Internasional
Pada 18 Maret 2026, Israel melakukan serangan udara terhadap bagian ladang gas South Pars, yang kemudian menghentikan sebagian besar produksi gas Iran. Serangan ini tidak hanya berdampak pada Iran tetapi juga memicu kecaman dari Qatar dan negara-negara Teluk lain karena fasilitas itu juga terkait dengan produksi energi regional.
Respons Iran pun tidak kalah keras. Teheran melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas energi di beberapa negara Teluk, termasuk Qatar dan Saudi Arabia, serta target-target strategis lain. Hal ini semakin mempersulit situasi di kawasan Timur Tengah yang telah terlibat perang terbuka lebih dari tiga minggu.
Kondisi ini membuat negara-negara lain di kawasan dan global prihatin, karena gangguan pada South Pars gas field serta jalur energi lain dapat berdampak serius terhadap pasokan minyak dan gas dunia. Harga minyak sempat melonjak tajam akibat ketidakpastian ini.
Baca Juga:Ā Panic Alert! Doha Peringatkan Iran Atas Serangan, Ketegangan Teluk Meningkat!
Trump Minta Israel Hentikan Serangan Energi Iran
Permintaan Trump kepada Netanyahu disampaikan dalam suasana yang tegang antara kedua sekutu. Trump menegaskan kepada media bahwa ia telah berbicara langsung dengan pemimpin Israel, meminta agar serangan lanjut terhadap fasilitas energi Iran dihentikan. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksepakatan strategis antara AS dan Israel.
Netanyahu sendiri, di sisi lain, menyatakan bahwa Israel telah beraksi sesuai dengan kepentingannya dan menegaskan bahwa serangan itu dilakukan āuntuk memutus kemampuan Iranā. Meski demikian, Netanyahu juga mengaku bahwa ia akan menunda serangan lebih lanjut atas permintaan Trump.
Ketidaksepakatan ini menunjukkan divisi tertentu dalam strategi perang. AS lebih fokus pada menghancurkan kemampuan militer Iran seperti rudal dan produksi nuklir. Sedangkan Israel memprioritaskan melemahkan struktur rezim serta infrastruktur yang dianggap ancaman langsung.
Pertimbangan Politik Dan Ekonomi Trump
Keputusan Trump untuk meminta Israel menghentikan serangan terhadap fasilitas energi Iran dipengaruhi tidak hanya oleh kondisi militer, tetapi juga pertimbangan politik dalam negeri AS. Lonjakan harga minyak menyusul perang membuat tekanan publik meningkat terhadap pemerintahan Trump, yang dipandang kurang efektif mengantisipasi dampaknya terhadap perekonomian.
Selain itu, Trump sempat menegaskan bahwa AS tidak berencana untuk menempatkan pasukan darat di Iran, meskipun pengiriman unit militer tertentu ke kawasan Teluk tetap dilakukan. Ia juga menyatakan fokus utama adalah menghancurkan kemampuan militer Iran daripada meningkatkan konflik lebih jauh.
Permintaan untuk menghentikan serangan terhadap energi Iran juga dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan konflik regional yang lebih luas. Trump khawatir perang yang berkepanjangan akan berdampak pada aliansi strategis AS dan kestabilan ekonomi global.
Dampak Dan Tantangan Hubungan ASāIsrael
Perbedaan pendekatan ini memperlihatkan adanya dinamika baru dalam hubungan antara AS dan Israel. Meski keduanya tetap berkoordinasi terkait operasi militer terhadap Iran, ada indikasi bahwa tujuan jangka panjang masing-masing pihak berbeda. AS terlihat menghindari eskalasi yang berlebihan, sementara Israel lebih agresif dalam serangan tertentu.
Pengamat internasional menyatakan dampak perbedaan ini bisa besar, terutama jika konflik terus berlangsung. Beberapa pakar menyebut ini sebagai pertama kali sejak lama hubungan strategis kedua negara dipertanyakan secara publik akibat perbedaan sikap terhadap target operasi tertentu.
Namun analis lain melihat bahwa meskipun ada gesekan soal serangan gas Iran, hubungan strategis ASāIsrael belum tentu runtuh. Perbedaan ini lebih mencerminkan prioritas berbeda dalam strategi perang yang kompleks dan berlapis.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari internasional.kompas.com
- Gambar Kedua dari trigger.id