Israel mengebom Universitas Negeri Lebanon di Beirut, menewaskan Direktur Fakultas Hussein Bazzi dan Profesor Mortada Srour.
Serangan ini terjadi di tengah ketegangan perang AS-Israel vs Iran dan retaliasi milisi Hizbullah, menimbulkan kekhawatiran global. Gedung kampus hancur, proyek riset terganggu, dan mahasiswa serta staf mengalami trauma psikologis. Komunitas internasional mengecam serangan terhadap fasilitas akademik, sementara pemerintah Lebanon memperingatkan eskalasi konflik di Timur Tengah. Simak dan ikutin terus informasi terbaru dan terviral lainnya hanya ada di Perkembangan Berita Dunia Terkini.
Serangan Mematikan Israel
Israel mengebom Universitas Negeri Lebanon di Beirut pada Kamis, 12 Maret 2026, menewaskan dua akademisi senior. Direktur Fakultas Ilmu Pengetahuan Hussein Bazzi dan Profesor Mortada Srour meninggal dunia saat gedung kampus menjadi sasaran serangan. Kejadian ini memicu kecemasan publik di Lebanon dan menimbulkan reaksi keras dari komunitas akademik internasional.
Gedung yang diserang terletak di pinggiran selatan Beirut, wilayah yang selama ini dianggap sensitif karena kedekatannya dengan basis milisi Hizbullah. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional akibat konflik antara AS-Israel dan Iran. Banyak warga melaporkan kepanikan saat sirene peringatan serangan udara berbunyi.
Kantor berita pemerintah Lebanon NNA mengonfirmasi korban tewas serta beberapa luka-luka ringan di antara staf kampus. Saksi mata menyebut ledakan menghancurkan beberapa fasilitas penelitian dan ruang kelas. Akibatnya, aktivitas akademik terpaksa dihentikan sementara untuk evaluasi keamanan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
š„ Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
š² DOWNLOAD SEKARANG
Latar Belakang Konflik
Serangan ini merupakan eskalasi terbaru setelah pasukan milisi Hizbullah di Lebanon membantu Iran dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel. Israel menilai serangan tersebut sebagai tindakan preventif untuk menekan pengaruh milisi yang semakin kuat di wilayah selatan Lebanon.
Hizbullah sendiri mulai menyerang sasaran militer Israel sejak awal Maret sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat operasi gabungan AS-Israel pada akhir Februari. Retaliasi ini memicu serangan udara dan darat terbatas dari Israel ke Lebanon selatan, termasuk serangan ke kampus dan gedung sipil.
Selain Universitas Negeri Lebanon, wilayah lain di Beirut timur dan pinggiran selatan juga menjadi target serangan Israel. Penduduk setempat melaporkan aktivitas militer Israel meningkat, dengan penggunaan drone dan rudal presisi yang memicu ketakutan warga sipil.
Baca Juga:Ā Darurat Energi! Mesir Naikkan BBM 30 Persen, Dampak Perang Timur Tengah Menghantam Warga
Dampak Bagi Akademisi
Kematian Direktur Bazzi dan Profesor Srour menimbulkan duka mendalam bagi komunitas akademik Lebanon dan internasional. Banyak mahasiswa dan rekan dosen menilai serangan ini merupakan pukulan berat bagi pendidikan tinggi dan riset ilmiah di Lebanon.
Gedung kampus yang hancur memengaruhi fasilitas penelitian dan laboratorium, sehingga sejumlah proyek akademik harus ditunda atau dihentikan. Keluarga korban dan staf kampus menuntut penyelidikan internasional atas serangan yang menewaskan akademisi yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran.
Selain korban jiwa, serangan ini menimbulkan trauma psikologis bagi mahasiswa dan staf. Banyak siswa yang mengalami kesulitan melanjutkan pendidikan akibat kondisi gedung yang rusak dan ketakutan berulang terhadap serangan lanjutan.
Reaksi Internasional
Serangan ini menimbulkan kecaman dari berbagai negara dan organisasi internasional. Beberapa pihak menyerukan penghentian segera serangan terhadap fasilitas sipil dan perlindungan bagi akademisi. Amnesty International dan UNESCO mengingatkan bahwa serangan terhadap kampus dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional.
Pemerintah Lebanon mengecam tindakan Israel dan memperingatkan potensi eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah. Diplomat di PBB menyerukan dialog diplomatik untuk mencegah bentrokan lebih luas antara kekuatan regional yang terlibat dalam konflik ini.
Analisis geopolitik menunjukkan bahwa serangan terhadap universitas bisa meningkatkan ketegangan antara Israel, Iran, dan sekutu regional. Ancaman balasan dari milisi Hizbullah kemungkinan akan memicu serangan balasan, memperburuk situasi keamanan di Lebanon dan negara-negara tetangga.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari cnnindonesia.com
- Gambar Kedua dariĀ cnnindonesia.com